Kamis, 29 Juli 2010

memilih istri itu...

menjadi tulisan kedua setelah sekian lama tidak menulis :)

Topik pernikahan selalu saja jadi Hot Tread di dunia Ikhwan ataupun Akhowat. Tapi saya tidak pernah mengetahu ada Akhowat yang menyatakan nanti suamiku harus punya ini itu, bisa ini itu. Apalagi sampai mengungkapkannya di jejaring sosial. Bisa jadi ada tapi saya yang kuper.

Nah, tulisan ini pun dibuat atas dasar *apa ya...* risih atau apapun ikhwah menyebutnya.
Ada teman saya di salah satu jejaring sosial yang sering mengungkapkan ingin menikah. Dan slalu bilang Akhowat itu sebaiknya begini-begitu *itu yang saya tangkap dari setiap ungkapannya*.

Yang jelas untuk memilih istri itu harus melihat :
  1. Agama
  2. Nasab
  3. Kekayaan
  4. Kecantikan
Nah kalo itu terpenuhi, maka sudah sangat beruntung si Ikhwan tadi. Tapi kalo toh yang nomor 2-4 tidak terpenuhi ya sudah. InsyaALLOH CUKUP jika hanya memiliki yang nomor 1.
Yang penting AKIDAH harus jelas.

Ga pernah tuh denger pengajian yang menganjurkan "plihlah istri yang pintar memasak, supaya kamu tidak kelaparan" atau yang bilang "pilihlah istri yang bisa menawar, supaya kamu bisa berhemat". Ntar bisa jadi bikin anjuran "plihlah istri yang bisa menjahit, supaya kamu berpakaian".

Saya kira kalaupun ada tambahan sikap qonaah lah yang perlu. Karena sikap seperti itu yang bisa menghindarkan diri dari sifat korup.

Semoga calon-calon suamiku membaca ini dan mengerti bahwa untuk memilih istri Cukupkan saja dengan 4 syarat tadi :)

Rabu, 01 April 2009

Tsunami itu di Situ Gintung

Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya,

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,

kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orangorang

yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka

mengucapkan, "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan

keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang -orang

yang mendapat petunjuk." (QS. al -Baqarah:155-15).

Sungguh ayat yang sangat cocok menggambarkan apa yang akan saya tuliskan. Pagi itu tak seperti biasanya, kala suara abadi yang tak pernah berubah lafazhnya dikumanndangkan seruan kepada manusia untuk menjalankan sholat subuh. Sungguh sangat berbeda dengan masyarakat sekitar situ gintung, ciputat-tangerang. Mereka dikejutkan dengan jebolnya situ gintung selebar 70meter. Luapan air bersama lumpur ikut menghantam ribuan rumah tinggal dan tentu saja kampus umj yang juga berdekatan dengan situ gintung.

Dan kalau kita cermat terhadap kitab kita :

Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya,

"Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri

melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.

Sesungguhnya yang demikian itu a dalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang

demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan

supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan -Nya kepadamu.Dan

Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. al-

Hadid:22-23)

Rasa kehilangan sunggu tergambar diwajah korban bencana alam, mereka yang selamat merasa sungguh sangat beruntung hidupnya. Berbeda dengan yang kehilangan saudara, denga segala upaya mereka berusaha mencarinya dan ketika didapati yang mereka cari telah terbujur kaku dirumah sakit atau masih belum sempat dievakuasi. Terlihat jelas gambaran wajah mereka yang ditinggalkan, mereka ada yang menangis meraung-raung (naudzubillah min dzalik) namun ada juga yang berusaha menenangkan diri.

Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, "Inna lillahi wa inna

ilaihi raji'un, ya Allah berilah aku pahala dalam mu sibahku ini dan gantilah untukku

dengan sesuatu yang lebih baik," kecuali Allah akan memberikan pahala dalam

musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik." (HR. Ahmad 3/27)


 

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak

ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan

kesedihan. Berkata pula Ibnu Sirin, "Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali

setelahnya pasti akan ada tangisan."

Semoga musibah yang melanda situ gintung dapat menjadikan pembelajaran bagi kita semua, karena belajar tak akan pernah ada kata terlambat.

Untitled

Apa ya???

Rabu, 11 Maret 2009

Bismillahirrohmanirrohim

seperti judulnya Bismillahirrohmanirrohim. Blog ini dibuat untuk belajar, tidak ada maksud menggurui. Namun kami memang ingin belajar disela-sela waktu kami menunggumu wahai Akhi...